Terkadang, hidup itu hampa tanpa sebuah rasa.
Dari hal itulah, Ia menciptakan sebuah rasa.
Jika hanya sebuah rasa bahagia yang tercipta, mungkin makna hidup pun tak akan ikut tercipta.
Dalam rasa bahagia, tumbuh sebuah rasa yang tak terduga.
Ya.. Rasa pedih.
Pedih? Bukankah sebuah rasa sakit? Mengapa saat merasakan sebuah rasa senang rasa sakit itu muncul?
Karna.. bukankah hidup itu harus adil? Bukankah hidup itu indah apabila terdapat sebuah perbedaan di dalamnya?
Semisal,
Sang malam tak akan indah tanpa hadirnya sang pagi,
Si putih tak akan elok tanpa hadirnya si hitam,
Rasa pun sama,
Bahagia dan pedih akan selalu bersama.
Mereka akan selalu bercengkerama,
Layaknya sebuah sukma.
Pedih mungkin bermakna tidak baik, namun dalam pedih, kita dapat menilik.
Menilik apa yang terjadi,
Menilik hal yang baru.
Menilik ada yang abadi,
Menilik suatu yang membiru.
Akankah lebih indah jika kita menghargai rasa pedih?
Karna pedih pun sebuah rasa,
Rasa yang selalu diabaikan,
Rasa yang selalu diacuhkan,
dan..
Rasa yang selalu meresahkan.
Hei pedih, silahkan bergandeng dengan si bahagia.
Karna tanpa adanya si pedih, tak akan ada polesan si bahagia.
Dari hal itulah, Ia menciptakan sebuah rasa.
Jika hanya sebuah rasa bahagia yang tercipta, mungkin makna hidup pun tak akan ikut tercipta.
Dalam rasa bahagia, tumbuh sebuah rasa yang tak terduga.
Ya.. Rasa pedih.
Pedih? Bukankah sebuah rasa sakit? Mengapa saat merasakan sebuah rasa senang rasa sakit itu muncul?
Karna.. bukankah hidup itu harus adil? Bukankah hidup itu indah apabila terdapat sebuah perbedaan di dalamnya?
Semisal,
Sang malam tak akan indah tanpa hadirnya sang pagi,
Si putih tak akan elok tanpa hadirnya si hitam,
Rasa pun sama,
Bahagia dan pedih akan selalu bersama.
Mereka akan selalu bercengkerama,
Layaknya sebuah sukma.
Pedih mungkin bermakna tidak baik, namun dalam pedih, kita dapat menilik.
Menilik apa yang terjadi,
Menilik hal yang baru.
Menilik ada yang abadi,
Menilik suatu yang membiru.
Akankah lebih indah jika kita menghargai rasa pedih?
Karna pedih pun sebuah rasa,
Rasa yang selalu diabaikan,
Rasa yang selalu diacuhkan,
dan..
Rasa yang selalu meresahkan.
Hei pedih, silahkan bergandeng dengan si bahagia.
Karna tanpa adanya si pedih, tak akan ada polesan si bahagia.

Iya mungkin benar pedih adalah bagian dari rasa,tapi bukankah kita juga berhak untuk memilih bahagia?
BalasHapus:p
Hapus