Teruntuk diriku,
Terimakasih sudah berkorban, bersabar dan bertahan dalam sepanjang hidupku ini.
Berkorban saat tak seharusnya memberikan hati sebagai korban,
Bersabar saat seharusnya meluapkan murka yang tak berkesudahan,
Bertahan saat semuanya sudah tak ada yang bisa dipertahankan.
Maaf, jika raga ini memiliki sebuah rasa egois, egois yang selalu lebih menyayangi diri lain, tanpa memikirkan diri sendiri.
Maaf, jika raga ini tak melulu menjaga diri sehingga sering terluka.
Maaf, jika keputusan-keputusanku tak pernah tepat sehingga diri ini selalu kecewa.
Aku tak pernah bisa menjadi "aku" yang seutuhnya, karna aku selalu "menyalahkan"mu saat semuanya tak salah.
Maaf..
Maaf juga namamu tak sebaik apa yang ada dalam asa hati,
Sering kali ingin menjadi yang terbaik, tapi..
Antonimnya, diri ini malah selalu buruk.
Terkadang, dirimu tak ada dalam posisi yang salah, namun sebaik apapun diri ini akan salah,
Layaknya langit dan awan, salahku seperti sudah melekat dan menyatu.
Teruntuk diriku,
Mungkin kata maafku untuk diriku sendiri takkan pernah cukup, diri sendiripun tidak bisa memaafkan diriku, akupun tak pernah bisa menyayangi diriku sendiri.
Sampai kapan diri ini memaafkan semuanya?
Selasa, 27 Agustus 2019
Senin, 19 Agustus 2019
Sepele
Sepele merupakan sesuatu yang dianggap enteng dan diremehkan, namun apakah hal sepele itu dapat menjadi hal yang penting?
Sepele dalam hal kecil adalah menyimpan tangkapan layar setiap obrolan kita.
Mungkin, itu semua tidak bermakna, tetapi aku takut semua itu justru menjadi sirna.
Sirna, apa yang sirna? Bukankah hanya sebuah gambar?
Iya, hanya sebuah gambar, namun gambar itu merupakan sebuah lukisan antara kamu dan aku.
Lukisan keseharian kita, yaitu sebuah amarah, sebuah tawa, sebuah canda, sebuah haru.
Dan..
Apabila lukisan itu suatu saat pudar dan menghilang, aku tidak bisa lagi memandang, tapi hanya bisa mengenang dan datangnya air mata yang berlinang.
Jadi, aku merasa itu bukan hal yang remeh, melainkan hal yang penting karna aku takut..
Iya.. takut kita tidak dapat lagi memulai semuanya, melainkan berakhir dengan tidak semestinya.
Sepele dalam hal kecil adalah menyimpan tangkapan layar setiap obrolan kita.
Mungkin, itu semua tidak bermakna, tetapi aku takut semua itu justru menjadi sirna.
Sirna, apa yang sirna? Bukankah hanya sebuah gambar?
Iya, hanya sebuah gambar, namun gambar itu merupakan sebuah lukisan antara kamu dan aku.
Lukisan keseharian kita, yaitu sebuah amarah, sebuah tawa, sebuah canda, sebuah haru.
Dan..
Apabila lukisan itu suatu saat pudar dan menghilang, aku tidak bisa lagi memandang, tapi hanya bisa mengenang dan datangnya air mata yang berlinang.
Jadi, aku merasa itu bukan hal yang remeh, melainkan hal yang penting karna aku takut..
Iya.. takut kita tidak dapat lagi memulai semuanya, melainkan berakhir dengan tidak semestinya.
Langganan:
Komentar (Atom)

