Tuhan mencabangkan lagi sebuah perasaan, yaitu harsa dan sendu.
Ketika takdir mendorong untuk menciptakan rasa yang harsa diantara kedua manusia, yang ganda akan menjadi tunggal.
Namun si rasa itu anitya, Ia akan selalu beralih.
Misal sang mega didalamnya terdapat bagaskara, cantik nan pedar. Seketika redum dan hujan yang rinai menyisihkan eloknya sang bagaskara.
Hati pun demikian, melahirkan sebuah ambivalen.. yaitu antipati dan afeksi.
Mereka selalu berlomba-lomba menjadi yang utama.
Ketika hidup selalu kontradiktif, hitam dan putih, terang dan gelap, maju dan mundur, kiri dan kanan, dan masih banyak lagi..
Haruskah dalam sebuah hati ada kontradiktif? Bukankah rasa itu harus dilingkupi oleh banyak dama yang baka?
Mengapa justru terbit sebuah pedar yang sangat dalam hingga harus melukiskan retisalya yang menjadi sebuah cerita dimasa yang akan datang?
Apa Tuhan membiarkan sebuah ambivalen ini tumbuh dan berakar dalam sebuah hati dan rasa agar menjadikan kesempurnaan?
Aku sayang, tapi aku benci..
Aku benci, tapi aku sayang..
Sebenci apapun, akan kalah dengan rasa sayang,
Sesayang apapun, akan kalah dengan rasa benci.
Hanya durasi, yang bisa menjawab.
Ketika durasi telah berhenti, mungkin kita akan tahu siapa yang akan jadi juaranya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar