Selasa, 31 Maret 2020

Posesif, haruskah?

Dalam sebuah hubungan, selalu ada "permasalahan" yang mungkin tidak besar, tapi selalu dibesar-besarkan.
Dalam sebuah hubungan, selalu ada "pertengkaran" yang mungkin sepele, tapi selalu mendramatisi.
Dalam sebuah hubungan, selalu ada "perkataan" yang mungkin sederhana, tapi selalu membuat suasana menjadi rumit.
Posesif, haruskah?
Iya, posesif selalu dapat menimbulkan permasalahan, pertengkaran dan perkataan yang tidak besar, sepele dan sederhana menjadi sangatlah besar, dramatis dan juga rumit.
Posesif adalah sebuah sifat yang membuat seseorang merasa menjadi pemilik, maka dari itu 8/10 nya yang "posesif" selalu merasa bahwa pasangannya adalah miliknya, dimana melakukan segala cara agar tidak kehilangan pasangannya.
Namun, sehatkah apabila posesif sudah tidak wajar?
Karna sering sekali dapat tidak menghargai pasangan dengan mengeluarkan kata-kata kasar atau membuat mereka merasa "sakit", selalu cemburu berlebihan hingga mengecek hpnya setiap saat, selalu mengancam akan "meninggalkan", selalu mengontrol dengan harus mengirimkan foto setiap saat tidak bersamanya, memiliki emosi yang berlebihan saat tidak memberi kabar (negative thinking)..
Bukankah hal itu semua dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman?
Bukankah setiap manusia makhluk sosial? Dimana ia akan saling berhubungan dengan orang lain.
Apakah ini sebuah keegoisan?
Atau malah terlalu takut kehilangan?
Terkadang seringkali berpikir, apakah posesif ini sebuah "penyakit" bagi setiap orang yang sedang jatuh cinta?
Lalu harus bagaimana?
Bolehkah posesif? Atau hanya mengira-ngira apa yang sedang ia lakukan tanpa bertanya?
Tapi, jika seperti itu bukankah lebih banyak menumbuhkan rasa penasaran dan tertanamnya pikiran negatif?
Dan..
Jika hal itu terjadi, bukankah sakit rasanya memendam semua rasa takut, rasa penasaran, rasa tidak percaya sendiri?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar